Cuplikan Novel Islami Terbaru 2017 Bersyahadat Dalam Cinta Bagian 01

Mereka menamaiku Bina Arina! Dipetik dari bahasa Ibrani, seorang gadis yang pengertian, pintar dan bijaksana. Ibuku berdarah Yahudi murni yang dinikahi oleh lelaki berdarah campuran Yahudi dan Spanyol. 4 keturunanku ke atas dari garis Ibu maka aku adalah Yahudi murni yang kini berdomisili di New York, Amerika serikat.



 

Sejarah membeberkan kisah tentang 10 suku Yahudi yang hilang dan diriku sekeluarga bagian dari mereka. Kini Pemerintah Negara Israel dengan program zionisnya berusaha mengembalikan sepuluh suku yang hilang tersebut ke tanah yang dijanjikan Tuhan. Pemahaman sedemikian sudah mendarah daging buat aku sekeluarga sehingga kami turut andil dalam program yang tidak disetujui oleh hampir seluruh manusia di dunia ini.

Cuplikan Dari Novel Spritual Indonesia Terbaru 2017 Bersyahadat Dalam Cinta yang akan dirilis sebentar lagi


webpnet-resizeimage9jpg

Sejak kematian saudara kembarku dalam peristiwa 11 september 12 tahun silam maka terbentuklah kebiasaanku mengunjungi Sinagoge1 yang dekat dengan kampus dan berjarak sekitar 5 kilometer dari rumahku di New Manhattan. Sejurus memasuki Sinagoge kulafaskan doa delapan belas berkat yang dipanggil syemoneh ezreh. Lalu diikuti dengan penglafalan kitab Taurat secara berpola yang berlangsung selama tiga tahun. Puncak ibadah tersebut ditutup dengan pengucapan berkat oleh Syeliakh Sibur2.

 

  1. Sinagoge : Rumah ibadah penganut Judaisme.
  2. Syeliakh Sibur : Petugas Sinagoge yang bertanggung jawab dalam melafalkan doa.

 

Sudah seminggu aku sendiri tiada lagi ditemani Chaya dan Daliah  yang sudah kuasingi dari hati ini sejak pengakuan mereka memeluk agama baru yang kuyakini hingga kini Agama yang melahirkan seorang teroris. Padahal dulu mereka sehati denganku karena kami senasib saat runtuhnya gedung World Trade Center. Sama-sama Anti-Islam tapi keadaannya kini berbalik 360 derajat. Mereka seolah-olah justru menjadikan aku domba-domba yang tersesat.

 

Ketika waktu istirahat kami berpas-pasan di kantin kampus. Aku sudah bertekad kuat untuk memerangi argumen mereka yang menganggap diriku ini domba tersesat.

“hi Bina” Chaya dan Daliah sedang menghampiriku dengan Fashion terbaru mereka. Rambut yang tertutup! Aku sedang duduk sembari menyantap buah strawberi sebagai makanan awal untuk makan siang. Sudah tradisi bangsaku bahwa buah-buahan dimakan sebelum memakan makanan utama.

 

Mereka duduk dihadapanku masih dalam suasana canggung. Sesekali mata-mata kami bertemu. Didetik-detik ini kami berbicara lewat bahasa mata.

“bagaimana kabarmu sekarang?” Basa-basinya Daliah untuk mencairkan bekunya suasana.

“luar biasa hebat” Jawaban yang bertolak belakang dengan isi hati.

“Alhamdullilah” Kumengerutkan kening sendiri mendengar balasan mereka. Mereka bukan lagi Chaya dan Daliah yang kukenal. Setiap hari ada hal baru yang mereka persembahkan untuk membuat keningku berkerut. Aku yakin semua penghuni kampus disini setuju bahwa mereka berdualah sesungguhnya domba-domba yang tersesat itu.

“kalian berdua sudah kehilangan jati diri. Kalian pengkhianat bangsa sendiri” Aku sudah tidak bisa bersabar dengan keanehan-keanehan yang mereka suguhkan. Mereka merespon kritik pedasku dengan senyuman. Kritik pedas yang kujadikan modal awal buat berdebat guna mengembalikan diri mereka ke jalan yang kuanggap benar. Aku tidak akan berputus asa!