Cuplikan Novel Islam Remaja Terbaru Bersyahadat Dalam Cinta Bagian 02

Tujuh hari yang lalu mereka mati kutu akbiat hujah-hujahku tentang Zionisme yang kuanggap sebagai perbuatan untuk menjalankan perintah Tuhan. Hari ini ingin kusinggung kembali sebagai bentuk peringatan bahwa Yahudi dijalan yang benar sedangkan mereka dijalan yang sesat.

Baca online novel islam remaja yang menyegarkan rohani, sebuah novel spritual terbaru 2017. Baca bagian Keduanya Tentang Perdebatan Antara Bina Dengan Kedua Sahabatnya Yang Membahas Tentang Zionisme.

 

“Apakah kalian masih berpikir kalau zionisme sebuah pelanggaran?”

 

“Defenitely!” Balas mereka hampir bersamaan.

 

“Dalam Bibel, Tuhan sudah menjanjikan tanah Palestina sebagai tanah yang dijanjikan untuk keturunan  Nabi Yacob yaitu kedua belas anaknya yang dipanggil Bani Israel. Lalu mengapa seluruh umat Islam hendak mengingkarinya jika mereka benar-benar beriman kepada Tuhan yang Maha Esa? Bukankah ayat yang sama juga ada pada kitab Suci Kalian?”

 

Mereka menatapku lekat-lekat.

 

“Siapakah bangsa Yahudi itu? Apakah seseorang dikatakan Yahudi jika Rasnya Yahudi atau karena agamanya Judaisme?”

 

Pertanyaan Daliah tak bisa kujawab dengan spontan karena sepengetahuanku Hukum di Negara Israel memberikan status kewarganegaraan secara otomatis kepada semua umat agama Yahudi, Judaisme.

 

“Bagiku dikatakan seseorang itu Yahudi apabila dia tidak mengkhianati agama nenek moyangnya. Di mata kami kalian bukan lagi seorang Yahudi.”

 

Jawabku dengan nada meragu.

 

“Pertanyaan Daliah tadi paling sulit dijawab oleh komunitas Yahudi di seluruh Dunia dan terbukti pada jawabanmu barusan.”

 

Chaya sudah tidak lagi membisu. Kini dua lawan satu. Aku diam seribu bahasa. Setiap kali hendak bersuara selalu ada getaran ragu yang muncul sehingga membuatku membisu.

 

Entah mengapa jawaban dari pertanyaan Daliah begitu kutunggu-tunggu. Rasa penasaran yang luar biasa tiba-tiba menyelubungi pikiranku.

 

“Kau sendiri mengetahuinya bahwa hukum di Negara Israel memberikan status kewarganegaraannya secara otomatis kepada semua umat Judaisme di Dunia sementara suku-suku Yahudi di Yaman, Palestina dan Iraq yang sudah memeluk agama Islam dan Kristen tidak diperbolehkan menjadi warga negara israel. Bukankah mereka Juga keturunan dari Nabi Yakub?”

 

“Coba kau bayangkan Bina jika orang-orang Palestina berbondong-bondong memeluk Judaisme, lantas apakah hal ini bisa mengakhiri konflik Isreal-Palestina? Atau bisakah kau bayangkan pemerintah zionis-Israel mau merevisi ulang definisi tentang siapakah Yahudi itu?”

 

Aku sudah tidak berkutik lagi dengan argumen mereka yang terasa begitu tajam tapi hatiku berusaha untuk mengingkarinya. Argumen-argumen mereka begitu tajam dan mengena.

 

Seperti bidikan seorang pemburu profesional dimana bidikannya tepat mengena hati seekor anak rusa. Tak ada yang bisa kuperbuat melainkan menikmati getaran hatiku yang terus bergetar-getar.